Masjid Baru di Perbatasan Dua Desa di Bua, Inisiatif Anggota Polres Luwu

Nalarpublik.com, Luwu – Di perbatasan Desa Pabbaresseng dan Desa Tanarigella, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, berdiri Masjid Nur Nadimah. Masjid bercat putih berukuran 18 x 12 meter itu menjadi simbol bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya sekaligus menjawab kebutuhan warga akan tempat ibadah yang lebih mudah dijangkau.

Masjid tersebut dibangun oleh Aiptu Muhammad Sakrawi, anggota Polres Luwu. Niat itu muncul ketika ia rutin melintas di lokasi tersebut saat berziarah ke makam orang tuanya. Ia melihat warga di dua desa mayoritas muslim tersebut harus menempuh jarak cukup jauh untuk melaksanakan salat berjamaah.

Bacaan Lainnya

“Setiap saya menuju makam orang tua, saya selalu melintas di sini. Saya lihat warga harus berjalan cukup jauh untuk shalat berjamaah,” ujar Sakrawi, Senin (23/2/2026).

Sejak kedua orang tuanya wafat pada 2016, Sakrawi menyimpan keinginan menghadiahkan amal jariah bagi mereka. Ia teringat ajaran bahwa amalan yang tak terputus salah satunya adalah sedekah jariah. Dari situlah muncul tekad membangun masjid di lokasi yang dinilainya strategis, tepat di perbatasan dua desa.

Sebagian dana pembangunan berasal dari tabungan peninggalan orang tuanya. Meski jumlahnya tidak besar, Sakrawi menganggapnya sebagai simbol perjuangan hidup kedua orang tuanya yang ingin ia teruskan dalam bentuk manfaat bagi masyarakat.

Masjid itu dinamai Nur Nadimah, gabungan nama ayahnya, Nurdin, dan ibunya, Nadimah. Nama tersebut menjadi pengingat bahwa bangunan itu dipersembahkan sebagai wujud cinta dan bakti seorang anak.

Pembangunan dimulai pada 2019 bersama saudara-saudaranya. Prosesnya sempat terhenti karena keterbatasan biaya. Namun, secara bertahap, bangunan masjid akhirnya rampung. Sakrawi mengaku membagi waktu antara tugasnya sebagai anggota Polri dan mengawasi pembangunan. Ia membentuk tim kecil untuk menangani teknis pekerjaan, sementara dirinya memantau dan turun langsung setiap akhir pekan.

Secara arsitektur, Masjid Nur Nadimah mengusung gaya modern minimalis dengan sentuhan lengkung runcing di bagian teras depan yang identik dengan arsitektur Islam klasik. Dinding berwarna putih polos memperkuat kesan bersih dan sederhana, sementara kubah kecil di bagian atas menjadi penanda visual bangunan ibadah tersebut. Desainnya menekankan fungsi dan kenyamanan jamaah tanpa ornamen berlebihan.

Keberadaan masjid ini membawa perubahan sosial di kawasan tersebut. Selain memudahkan warga beribadah, masjid menjadi ruang pertemuan dan mempererat silaturahmi antara masyarakat Desa Pabbaresseng dan Desa Tanarigella. Lampu-lampu yang dipasang di halaman turut membuat lingkungan sekitar lebih terang dan aman pada malam hari.

Imam masjid, Jamil Andi Sappaile, mengatakan suasana kampung berubah sejak masjid berdiri. “Masyarakat senang. Sekarang lebih hidup dan terasa lebih aman,” ujarnya. Ia menyebut jamaah semakin ramai, terutama saat waktu magrib dan isya.

Di belakang masjid mengalir sungai kecil yang sebelumnya kerap menjadi tempat berkumpul anak muda. Sakrawi berharap lantunan azan dan kegiatan keagamaan di masjid dapat menumbuhkan kesadaran positif di tengah masyarakat.

Ke depan, ia berencana membangun tempat khusus mengaji bagi anak-anak agar masjid semakin hidup dengan aktivitas pendidikan Al Quran. Baginya, Masjid Nur Nadimah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan warisan nilai dan doa yang diharapkan terus mengalir manfaatnya bagi masyarakat serta menjadi amal jariah bagi kedua orang tuanya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *